Sabtu, 11 Agustus 2018

Mendidik Anak


Mendidik Anak

    Sebenarnya tak sepantasnya saya menulis tentang mendidik anak, karena saya sendiri belum mengetahui bagaimana cara mendidik anak dengan baik, saya sendiri juga belum membuktikan bagaimana nanti anak-anak saya saat sudah saya didik. Saya yang nantinya akan menjadi calon ibu, menjadi madrasah pertama untuk anak-anak saya, takut akan ketidaksuksesan saya dalam mendidik dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya nanti. Saya menulis ini, juga bukan karena masalah umur, bukan juga karena ingin, tetapi karena saya menduduki sebuah posisi. Posisi saya ibarat ibu bagi keponakan-keponakan saya. Bukan juga ibarat, tapi sudah menjadi ibu, meskipun bukan ibu kandungnya, karena saya ingin keponakan saya, tumbuh menjadi orang yang lebih baik dari saya.
Soal mendidik anak, tidak lepas dari tiga komponen, keluarga, sekolah, dan lingkungan. Dan saya akan lebih membahas soal mendidik anak di lingkungan keluarga sendiri. Di dalam lingkungan keluarga sendiri ada tiga komponen juga, yang pertama orang tua yang mendidik, kedua anak yang akan dididik, dan didikannya.
    Saya merasakan, meskipun saya sendiri belum mempunyai pengalaman yang nyata, belum mempunyai pengalaman yang sesungguhnya, dan belum mempunyai pengalaman menjadi orang tua, bahwa menjadi orang tua itu sulit, lebih sulit ketika saya menjadi seorang pelajar yang belajar di sekolah, lebih sulit saat guru saya memberi soal matematika. Kenapa lebih sulit dari seorang pelajar saat menyelesaikan tugas matematikannya atau menyelesaikan studinya? Karena jika seorang pelajar gagal dalam mengerjakan soal matematika, masih bisa mengulangnya, masih bisa memperbaiki kesalahannya dengan soal-soal matematika yang lain, pun jika seorang pelajar gagal dalam studinya, mereka masih bisa mengulangnya, bahkan jika tidak lulus sekalipun, mereka masih bisa kejar paket. Berbeda dengan mendidik seorang anak yang menjadi tugas yang paling penting bagi orang tua, jika orang tua salah sedikitpun dalam mendidik anak, maka sangat sulit untuk memperbaikinya. Tidak ada yang namanya remidial, ataupun kejar paket, tidak ada. Tetapi sebaliknya, jika orang tua benar dalam mendidik anaknya, jaminannya adalah surga, karena anaknya sendiri yang nantinya akan menyeretnya ke surga.
Begitulah sangat sulit orang tua mendidik anak, jika orang tua memberinya segelas susu, maka diminumlah susu itu, pun jika orang tuanya memberi segelas racun, maka diminumlah racun tersebut. Maka jangan sampai orang tua memberi racun untuk meracuni anaknya sendiri. Contohnya, ketika orang tua sudah berani memberi hp untuk anaknya yang masih SMP, SMA, pun SD. Tanpa disadari mereka suda diam-diam telah memberi racun kepada anaknya, sedikit demi sedikit.
Di zaman globalisasi ini, dengan perkembangan IPTEK, orang tua semakin bangga jika anaknya sudah bisa menguasai beberapa teknologi, termasuk android sendiri, bahkan jika mereka sudah bisa membelikan untuk anaknya, mereka akan lebih bahagia. Tidak menyalahkan jika anak sudah menguasai berbagai macam teknologi, bahkan itu menjadi nilai tersendiri, tetapi apakah nilai tersendiri tersebut sudah seimbang dengan umur, sudah seimbangkah dengan Iman yang dimiliki anak, sudah bisakah anak memilah dan memilih apa yang menurutnya baik.
    Pun jangan menyalahkan jika nantinya seorang anak akan berani membantah kepada orang tuanya, contohnya lagi, android bisa membuat ketagihan orang yang memakainya,jika android tersebut sudah diberikan, jangan salahkan jika nanti anak tidak mau jika disuruh, jangankan itu, mendengar saat memanggilnyapun mereka tidak menghiraukannya.
    Jadi, semuanya tidak lepas dari pengawasan orang tua, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, yang dapat menjadi generasi Qur’ani, yang berguna bagi Nusa, Bangsa, dan Agama.
    Saya yang nantinya akan menjadi madrasah bagi anak-anak saya, sekarang hanya bisa belajar, dan belajar dengan sungguh, menjadi anak yang baik, yang membanggakan untuk orang tua saya, agar nantinya anak-anak saya juga tumbuh menjadi anak-anak yang baik, yang juga membanggakan orang tua, seperti yang saya lakukan.

Mendidik Anak

Mendidik Anak     Sebenarnya tak sepantasnya saya menulis tentang mendidik anak, karena saya sendiri belum mengetahui bagaimana cara...