Mendidik Anak
Sebenarnya tak sepantasnya saya menulis
tentang mendidik anak, karena saya sendiri belum mengetahui bagaimana cara
mendidik anak dengan baik, saya sendiri juga belum membuktikan bagaimana nanti
anak-anak saya saat sudah saya didik. Saya yang nantinya akan menjadi calon
ibu, menjadi madrasah pertama untuk anak-anak saya, takut akan ketidaksuksesan
saya dalam mendidik dan memberikan yang terbaik untuk anak-anak saya nanti.
Saya menulis ini, juga bukan karena masalah umur, bukan juga karena ingin,
tetapi karena saya menduduki sebuah posisi. Posisi saya ibarat ibu bagi
keponakan-keponakan saya. Bukan juga ibarat, tapi sudah menjadi ibu, meskipun
bukan ibu kandungnya, karena saya ingin keponakan saya, tumbuh menjadi orang
yang lebih baik dari saya.
Soal mendidik anak, tidak lepas dari tiga
komponen, keluarga, sekolah, dan lingkungan. Dan saya akan lebih membahas soal
mendidik anak di lingkungan keluarga sendiri. Di dalam lingkungan keluarga
sendiri ada tiga komponen juga, yang pertama orang tua yang mendidik, kedua
anak yang akan dididik, dan didikannya.
Saya merasakan, meskipun saya sendiri
belum mempunyai pengalaman yang nyata, belum mempunyai pengalaman yang
sesungguhnya, dan belum mempunyai pengalaman menjadi orang tua, bahwa menjadi
orang tua itu sulit, lebih sulit ketika saya menjadi seorang pelajar yang
belajar di sekolah, lebih sulit saat guru saya memberi soal matematika. Kenapa
lebih sulit dari seorang pelajar saat menyelesaikan tugas matematikannya atau
menyelesaikan studinya? Karena jika seorang pelajar gagal dalam mengerjakan
soal matematika, masih bisa mengulangnya, masih bisa memperbaiki kesalahannya
dengan soal-soal matematika yang lain, pun jika seorang pelajar gagal dalam
studinya, mereka masih bisa mengulangnya, bahkan jika tidak lulus sekalipun,
mereka masih bisa kejar paket. Berbeda dengan mendidik seorang anak yang
menjadi tugas yang paling penting bagi orang tua, jika orang tua salah
sedikitpun dalam mendidik anak, maka sangat sulit untuk memperbaikinya. Tidak
ada yang namanya remidial, ataupun kejar paket, tidak ada. Tetapi sebaliknya,
jika orang tua benar dalam mendidik anaknya, jaminannya adalah surga, karena
anaknya sendiri yang nantinya akan menyeretnya ke surga.
Begitulah sangat sulit orang tua mendidik
anak, jika orang tua memberinya segelas susu, maka diminumlah susu itu, pun
jika orang tuanya memberi segelas racun, maka diminumlah racun tersebut. Maka
jangan sampai orang tua memberi racun untuk meracuni anaknya sendiri.
Contohnya, ketika orang tua sudah berani memberi hp untuk anaknya yang masih
SMP, SMA, pun SD. Tanpa disadari mereka suda diam-diam telah memberi racun
kepada anaknya, sedikit demi sedikit.
Di zaman globalisasi ini, dengan
perkembangan IPTEK, orang tua semakin bangga jika anaknya sudah bisa menguasai
beberapa teknologi, termasuk android sendiri, bahkan jika mereka sudah bisa
membelikan untuk anaknya, mereka akan lebih bahagia. Tidak menyalahkan jika
anak sudah menguasai berbagai macam teknologi, bahkan itu menjadi nilai
tersendiri, tetapi apakah nilai tersendiri tersebut sudah seimbang dengan umur,
sudah seimbangkah dengan Iman yang dimiliki anak, sudah bisakah anak memilah
dan memilih apa yang menurutnya baik.
Pun jangan menyalahkan jika nantinya
seorang anak akan berani membantah kepada orang tuanya, contohnya lagi, android
bisa membuat ketagihan orang yang memakainya,jika android tersebut sudah
diberikan, jangan salahkan jika nanti anak tidak mau jika disuruh, jangankan
itu, mendengar saat memanggilnyapun mereka tidak menghiraukannya.
Jadi, semuanya tidak lepas dari
pengawasan orang tua, agar anak tumbuh menjadi pribadi yang baik, yang dapat
menjadi generasi Qur’ani, yang berguna bagi Nusa, Bangsa, dan Agama.
Saya yang nantinya akan menjadi madrasah
bagi anak-anak saya, sekarang hanya bisa belajar, dan belajar dengan sungguh,
menjadi anak yang baik, yang membanggakan untuk orang tua saya, agar nantinya
anak-anak saya juga tumbuh menjadi anak-anak yang baik, yang juga membanggakan
orang tua, seperti yang saya lakukan.